Hajatan Akbar Insan Pegiat Festival Jogja Ditutup Dengan Meriah

Hajatan Akbar Insan Pegiat Festival Jogja Ditutup Dengan Meriah

Yogyakarta, 22 November 2019. Meriah, hangat, dan intim. Begitulah suasana Alun-alun Pendopo Agung Kedaton Ambarukmo Yogyakarta kemarin malam ini (21/11). Jajaran beberapa booth kuliner, merchandise Jogja Festivals Forum & Expo, serta panggung musik yang menyuguhkan beragam warna musik dari beberapa band, membuat para penonton seolah enggan beranjak.

Apalagi area untuk penonton ditata sedemikian rupa, sehingga mereka dapat menikmati para penampil di panggung tidak hanya dengan berdiri, tapi bisa dengan duduk, lesehan, dan bahkan sambil berbaring santai di bean bag yang tersedia. Seolah para pengunjung masih mengharapkan hajatan akbar insan festival Jogja ini masih terus berlangsung sampai beberapa hari lagi.

Hal tersebut sangat bisa dimaklumi, sebab gelaran Jogja Festivals Forum & Expo (JFFE) yang digelar selama tiga hari pada 19 - 21 November 2019, menyuguhkan berbagai program dan kegiatan yang bisa dikatakan baru pertama kali disajikan di Yogyakarta, atau mungkin di Indonesia.

Seperti di hari terakhir pelaksanaan JFFE kemarin yang dimulai pukul 10:00 WIB, dengan Focus Group Discussion mengenai Ekosistem Festival yang dilaksanakan di Hotel Grand Ambarrukmo Jogja. FGD ini selain diikuti para pegiat yang memiliki peran baik langsung maupun tidak terhadap pelaksanaan festival-festival di Yogyakarta. Baik itu pihak pemerintah, pihak swasta, penyelenggara festival, dan dari kalangan media.

Siang harinya, pukul 12:00 WIB di Pendopo Agung Kedaton Ambarukmo Yogyakarta, digelar diskusi bertajuk Festive Your Passion. Diskusi yang dimoderatori Aan Fikriyan ini, menghadirkan tiga "Bapak Festival" Jogja.

Mereka adalah Anas Alimi dari Rajawali Indonesia yang beberapa event di antaranya PrambananJazz, Jogjarockarta, Mocosik. Kemudian Lulut Wahyudi dari Kustomfest, dan Ajie Wartono dari Ngayogjazz.

Tampil sebagai pembicara pertama, Ajie Wartono mengungkapkan setiap membuat festival tidak perlu memikirkan berapa audience yang akan datang. Namun yang lebih penting dipikirkan adalah bagaimana festival itu nanti berjalan. Terutama bagaimana passion dari penggiat festival persiapan saat pra-festival dan selama prosesnya. Jika hal tersebut berjalan baik sesuai ide-ide yang berkembang, niscaya audience festival akan datang dengan sendirinya.

“Ikuti passion dan ide-ide liar Anda. Wujudkan, dan bagilah dengan teman-teman Anda.” demikian ungkap salah seorang pengagas Ngayogjazz ini.

Giliran berikutnya adalah Lulut Wahyudi yang bercerita bagaimana event Kustomfest sudah diliput sekitar 127 media dari luar negeri. Selain itu ia juga menceritakan bagaimana tentang perkembangan tema festival ini setiap tahunnya. Tentang bagaimana perlahan-lahan mengubah image Kustomfest yang selama ini identik dengan dengan motor, mobil, dan anak muda, menjadi lebih terbuka untuk masyarakat yang lebih luas.

Contoh langkah-langkah sederhana yang dilakukan berkaitan dengan hal tersebut antara lain dengan membuat ruang bermain untuk anak-anak, menghadirkan suasana lebih homy sehingga semua kalangan nyaman untuk datang dalam event ini.

Dalam kesempatan ini, Lulut Wahyudi berpesan, “Lakukan apapun yg sesuai passion, karena kmu tidak merasa kerja tapi melakukan kesenangan yang berbonus.”

Pada bagian selanjutnya, Anas Alimi dari Rajawali Indonesia menekankan pentingnya referensi dan riset jika ingin membuat sebuah festival. Ia juga mengingatkan bahwa penyelenggara festival harus berani berinvestasi, termasuk investasi kerugian, terutama untuk event rutin atau tahunan.

Harapannya berkaitan dengan adanya Jogja Festivals ini, akan bisa dibuat timeline semua event Jogja yang diselenggarakan dalam waktu yang beruntutan. Tak lupa ia berpesan, “Seni tertinggi adalah membahagiakan orang banyak. Selamat membuat festival!”

Usai sesi pertama tersebut, di lokasi yang sama mulai pukul 15:00 WIB digelar sesi berikutnya bertajuk Creative Cultural Hub & Hack. Hadir sebagai pembicara di sesi yang dimoderatori oleh Ari Wulu ini, Ria Papermoon dari Pesta Boneka, Kamila Andini dari JAFF, dan Heri Pemad dari ArtJog.

Sebagai penyelenggara ArJog selama dua belas kali, Hari Pemad mengungkapkan semuanya itu berawal dari kegalauan pribadi sebagai seorang pelukis. Kemudian ia bersama-sama para seniman dan pelaku kreatif lainnya memikirkan bagaimana cara menemukan wadah untuk menuangkan karya seni rupa mereka, yang selama ini masih dianggap kurang.

Seiring berjalannya waktu, dan dukungan para seniman, Artjog akhirnya berkembang bukan hanya sekadar event khusus seni rupa tetapi telah berubah menjadi festival besar dengan berbagai jenis seni rupa.

Ia menekankan bahwa, “Penyajian karya yang maksimal harus diutamakan. Sehingga penyajian suatu karya ketika dinikmati langsung atau ketika didokumentasikan sudah menjadi sajian internasional tersendiri.”

Kamila Andini dari JAFF mengungkapkan festivalnya telah berlangsung sejak 2005, didirikan oleh beberapa film maker serta beberapa komunitas film yang banyak di Jogja. Mereka memiliki keinginan yang sama ingin mengadakan festival film tingkat Asia.

“Sejak awal berdirinya, JAFF berkontribusi mengajak penonton mengapresiasi tak hanya film-film Indonesia, tapi juga Asia.” imbuhnya.

Berbeda lagi dengan kisah Festival Boneka yang dituturkan Ria Papermoon. Festival yang diadakan dua tahun sekali ini, terciptanya secara tidak sengaja. Semua berawal dari inisiatif Papermoon dengan para mahasiswa luar negeri, yang sama-sama ingin menggelar sebuah pementasan boneka.

Malam harinya, mulai pukul 19:00 WIB digelar pementasan musik yang menghadirkan Tricotado, Taksu, dan ditutup oleh Mahijadedi. Bersamaan dengan usianya lagu terakhir dari Mahijadedi, secara resmi berakhir pula pelaksanaan Jogja Festivals Forum & Expo.

Meskipun hanya berlangsung tiga hari, benyak hal yang dihasilkan dan didapatkan oleh para pengunjung serta tentu saja oleh para pegiat yang terlibat baik secara langsung maupun tidak atas pelaksanaan beragam festival di Jogja dan juga Indonesia.

Beberapa capaian yang patut dicatat dari gelaran perdana JFFE ini antara lain adalah, semakin terjalinnya komunikasi yang makin intens dan erat di antara para stakeholder festival Jogja, serta semakin jelas arah dan tujuan yang ingin sama-sama diraih.

Satu hal lagi yang tidak kalah penting adalah, dengan terselenggaranya JFFE yang didukung sepenuhnya oleh para pekerja event, pegiat festival, dan festival-festival yang menjadi expo participant, merupakan sebuah bukti kuat bagaimana niat, semangat, jejarung, kolaborasi, dan kesungguhan para pegiat festival Jogja tersebut, untuk memantapkan, memantaskan, dan mempersiapkan diri menghadapi terwujudnya Yogyakarta sebagai Kota Festival.

Terima kasih dan sampai jumpa tahun depan!


Editorial Note:

Jogja Festivals adalah satu-satunya platform strategis untuk festival di Indonesia, yang didirikan oleh 15 festival terbaik Yogyakarta, yang telah menyelenggarakan festival lebih dari lima tahun berturut-turut dalam bidang estetika, sains, dan teknologi.

Jogja Festival Expo & Forum adalah pertemuan seluruh pegiat festival di Yogyakarta untuk mendiskuskusikan bersama permasalahan dan solusinya dalam pelaksanaan festival di Yogyakarta. Dalam forum ini menghadirkan seluruh stakeholder yang juga berkaitan dengan pelaksanaan festival.

Festival EXPO Participants:
  1. ArtJog
  2. Biennale Jogja
  3. Festival Film Dokumenter
  4. Festival Musik Tembi
  5. Indonesia Dramatic Reading Festival
  6. Jogja – Asian Netpac Film Festival
  7. Jogja Design Week
  8. Jogja Holden Day
  9. Jogjakarta Volkswagen Festival
  10. Jogja Street Sculpture Project
  11. Keroncong Plesiran
  12. Kustomfest
  13. Malioboro Coffee Night
  14. Ngayogjazz
  15. Pinasthika Creativestival
  16. Pesta Boneka
  17. Rajawali Indonesia
  18. Sumonar
  19. Vegan Festival Yogyakarta
  20. Yogyakarta Gamelan Festival
  21. Yogyakarta Ska Festival
Pekerja Event:
  1. GM Production
  2. 69 Production
  3. SM Group
  4. Evenesia
  5. H Pro
  6. Eres
  7. Evio Multimedia
  8. PRG Pujek Rigging
  9. Thunder Productions
  10. GSP Multimedia
  11. Star Visual
  12. Traff Stage
  13. DC Pro Event Equipment
  14. Setara Production
  15. Mad Flash Production
  16. Jogja Festivals
  17. Jogteng Production
  18. SkyComm
  19. Rentalindo Jogja
Versi lengkap artikel ini bisa diunduh pada tautan ini