ID | EN
Jogja Festivals Buka Ruang untuk Bersinergi Wujudkan Peraturan Daerah Tentang Ekosistem Festival di Yogyakarta

Jogja Festivals Buka Ruang untuk Bersinergi Wujudkan Peraturan Daerah Tentang Ekosistem Festival di Yogyakarta

Pandemi Covid-19 tidak menyurutkan langkah pegiat festival di Yogyakarta. Melalui Jogja Festivals sederet kegiatan tetap berjalan sepanjang 2020, baik secara daring maupun hybrid (luring dan daring).

Setidaknya ada empat kegiatan besar yang sudah digelar Jogja Festivals sepanjang 2020 yaitu :

  1. 1. Pembagian donasi untuk pelaku festival dari Komunitas Bersama Jaga Indonesia yang didukung Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) melalui Konser Solidaritas Bersama Jaga Indonesia. Dana yang diberoleh melalui acara tersebut, melalui Jogja Festivals disalurkan kepada pekerja event, pekerja lepas festival, dan MC yang terdampak Covid-19 di Yogyakarta. Donasi sejumlah Rp 85,9 juta diserahkan Jogja Festivals kepada 286 orang.
  2. 2. Srawung Jogja Festival yang didukung Direktorat Hubungan Antarlembaga Kemenparekraf/Baparekraf dengan tema Focus On ASEAN dalam rangka persiapan menuju World Conference on Creative Economy 2021. Kegiatan ini diadakan di Pendopo Ajiyasa, Jogja National Museum pada Kamis, 24 September 2020 diakukan secara hybrid event.
  3. Jogja Festivals Forum & Expo (JFFE) 2020 “ASEAN Focus” secara hybrid event di Royal Ambarrukmo Hotel pada 17 sampai 20 November 2020. JFFE 2020 diselenggarakan dalam semangat penyesuaian adaptasi kebiasaan baru dan sekaligus berusaha menjawab tantangan situasi sosial dan ekonomi festival saat ini. Digelar secara daring dan luring memungkinkan peserta festival dari berbagai kota dan negara bisa berpartisipasi dalam kegiatan ini. JFFE membuka peluang lebih banyak pihak dan juga pelaku festival di berbagai kota dan negara anggota ASEAN untuk terlibat dan saling bertukar pengetahuan dan pengalaman menghadapi pandemi serta berstrategi untuk masa depan.
  4. 4. Behind The Festival - KUSTOMFEST 2020 #Unrestricted yang diadakan di Jogja National Museum pada 29 Desember 2020. Jogja Festivals Tour "Behind The Festival" merupakan program Jogja Festivals bekerja sama dengan berbagai festival untuk studi dan kajian tentang penyelenggaraan dan produksi festival. Kali ini, Jogja Festivals bekerja sama dengan KUSTOMFEST 2020 untuk mendalami penyelenggaraan festival tersebut. Kegiatan ini berupa kelas semi formal yang berisi bincang eksklusif bersama direktur Kustomfest, direktur artistik, divisi produksi, dan divisi merchandise. Materi yang akan didapatkan seputar strategi promo festival, bagaimana membangun standar kualitas penyelenggaraan sebuah festival, CHSE manajemen dalam festival, manajemen laju pengunjung dengan protokol kesehatan, proses kuratorial dan penataan artistik dalam KUSTOMFEST, manajemen merchandise project dan juga manajemen produksi festival.

“Setelah mendapatkan laporan Jogja Festivals 2020, saya sangat bangga, di mana sepanjang tahun kita mengalami masa yang paling sulit, pandemi Covid-19, Jogja Festival sebagai sebuah ekosistem tetap mempunyai semangat untuk menyelenggarakan event sebagai bentuk tanggung jawab pelaku festival di Yogyakarta untuk tetap berkreasi,” ujar Penasihat Jogja Festivals, KPH Purbodiningrat.

Ia menyebutkan sepanjang 2021, Jogja Festivals juga sudah menyusun 10 program kerja dan sebagian merupakan kelanjutan program selanjutnya.

Sepuluh program kerja yang dimaksud meliputi, (1) Srawung Festivals, (2) Jogja Festivals Forum & Expo (JFFE) 2021 (16-19 November), (3) Merchandise Project, (4) WCCE 2021-Dubai, UEA (Presentasi hasil Riset Mapping the Festival Landscape in SouthEast Asia), (5) Rapat dan audiensi: Pemda, DPRD,dan private sectors, (6) Realisasi Kebijakan untuk Festival (SK-Gub/Perda) (7) ASEAN WORKING GROUP FOR CREATIVE ECONOMY Civil Society Meeting (bekerjasama dengan Kementerian Luar Negeri), (8). PROMOSI PROPAGANDA FESTIVAL - Video Festival Jogja, (9) Advisory Penyelenggaraan Festival di Yogyakarta yang ada di Komunitas, pemda, pemkot, pemkab), dan (10) Jogfest Studies Centre dengan project pertama Riset: Mapping the Festival landscape in SouthEast Asia yang telah mendapat grants dari British Council.

Menurut KPH Purbodiningrat, Jogfest Studies Center menjadi sarana belajar bagi orang luar Yogyakarta dan luar negeri yang tertarik untuk berbagi dan belajar di pusat studi ini.

“Menjadi PR kita semua, seluruh jajaran Jogja Festivals, baik board maupun member, dapat menyelenggarakan apa yang sudah menjadi program 2021. Saya selaku penasihat akan tetap menyemangati dan mendukung,” ucapnya.

Ketua Jogja Festivals, Heri Pemad, mengatakan ruang sinergi yang sudah dibuka oleh pemerintah melalui Jogja Festivals harus selalu dijaga. Tindak lanjut dari seluruh kegiatan ini adalah dengan adanya kebijakan untuk Festival baik dalam bentuk Perda atau pun SK Gubernur.

“Perda festival ini yang akan membedakan Yogyakarta dengan kota lainnya, sebab penyelenggaraan festival dijamin oleh pemda dan bisa berefek mendatangkan wisatawan ke Yogyakarta untuk menyaksikan festival-festival,” tuturnya.

Muara dari perda festival adalah menjadikan Yogyakarta sebagai kota festival. Tidak hanya itu, Heri Pemad juga menilai keberadaan perda festival bisa membuat perputaran ekonomi lebih sehat. Selama ini, masih banyak pegiat festival yang idealis dan berpikir menyelenggarakan festival tanpa berpikir keuntungan atau BEP. Bahkan, tidak sedikit yang merogoh kocek sendiri untuk menutup biaya operasional penyelenggaraan festival.

Terkait Jogfest Studies Center, ia mendorong kegiatan Kamisan yakni pertemuan mingguan antara Jogja Festivals dengan para partisipan Jogja Festival Forum sebagai sarana berkomunikasi rutin dan menjadi kebiasaan baru bagi pegiat festival di Yogyakarta untuk terus bersinergi dan memperkuat hubungan yang sudah terjalin.

“Diskusi antar festival ini untuk membangkitkan semangat meskipun dalam kondisi minimnya event atau festival off air (luring, on ground) bisa tetap berkarya,” kata Heri Pemad.

Dukungan pemerintah dalam bentuk fasilitasi ruang atau kantor untuk Jogja Studies Center juga menjadi harapan Jogja Festivals.

Senada dengan Heri Pemad, Direktur Pelaksana Jogja Festivals, Dinda Intan Pramesti Putri, mengatakan perjalanan keberadaan perda festival masih panjang. Oleh karena itu, kegiatan-kegiatan yang diinisiasi Jogja Festivals menjadi jembatan untuk mempertemukan pemangku kepentingan festival, baik dari pegiat festival, pemerintah, dan DPRD untuk mewujudkan hal itu.

“Harapannya perda pertama terkait festival bisa lahir dari Yogyakarta dan kedepan positioning festival-festival di Yogyakarta menjadi lebih baik di tingkat Asia ataupun dengan benua lainnya,” kata Dintan.

Versi lengkap artikel ini bisa diunduh pada tautan ini