ID | EN
Srawung Jogja Festival JFFE 2020 persiapan menuju World Conference on Creative Economy (WCCE) 2021

Srawung Jogja Festival JFFE 2020 persiapan menuju World Conference on Creative Economy (WCCE) 2021

Yogyakarta, 26 September 2020. - Sebanyak kurang lebih 40 perwakilan festival yang ada dan diselenggarakan di Jogjakarta, bertemu dan saling bertukar pikiran di Srawung Jogja Festival yang mengambil tempat di Pendopo Ajiyasa, Jogja Nasional Museum, Kamis (24/09) kemarin.

Yogyakarta, 26 September 2020. - Sebanyak kurang lebih 40 perwakilan festival yang ada dan diselenggarakan di Jogjakarta, bertemu dan saling bertukar pikiran di Srawung Jogja Festival yang mengambil tempat di Pendopo Ajiyasa, Jogja Nasional Museum, Kamis (24/09) kemarin.

Tahun ini adalah pelaksanaan kedua Srawung Jogja Festival, setelah sebelumnya diselenggarakan tahun 2019 dan berhasil mengumpulkan lebih dari 40 festival. Kali ini dari penyelenggaraan Srawung Jogja Festival diharapkan dapat memperkuat relasi antar festival sekaligus sinergi bersama untuk mewujudkan Yogyakarta sebagai kota festival kelas dunia.

Mengambil lokasi yang sama dengan lokasi penyelenggaraan ARTJOG: Resilience 2020, serta digelar dengan sangat memperhatikan protokol kesehatan untuk pencegahan penyebaran Covid-19, ajang diskusi antar festival di Daerah Istimewa Yogyakarta ini juga diikuti secara daring oleh pihak-pihak yang tidak dapat hadir langsung di lokasi.

Kegiatan yang dimulai sekitar jam 13:30 WIB ini dibuka oleh K. Candra Negara, Direktur Hubungan Antarlembaga Kemenparekraf/Baparekraf secara daring.

Dalam sambutannya, beliau menyampaikan, “Untuk Daerah Istimewa Yogyakarta, pariwisata dan ekonomi kreatif perlu mendapat perhatian khusus karena potensinya yang luar biasa. Kalau pariwisata dan ekonomi kreatif di Yogyakarta dapat duduk bersama dan bekerja sama, hasilnya akan luar biasa.”

“Dari acara ini diharapkan komunitas ekonomi kreatif di Yogyakarta dapat menampak ke langkah berikutnya, sehingga tidak hanya ArtJog, tapi 40 festival lainnya juga dapat lebih dikenal. Selain itu diharapkan juga bagaimana Jogja dapat memberikan dukungan kegiatan-kegiatan bersifat internasional, dalam hal ini adalah WCCE 2021.” lanjutnya.

Pada giliran berikutnya Ketua Jogja Festivals, Heri Pemad pada sambutannya menyampaikan, “Di tengah pandemi ini tidak akan pernah padam kreativitas kita dalam menyelenggarakan festival sebagai kebutuhan lelaku seni budaya kita semua.”

Sementara itu Penasehat Festival Jogja Festivals, Kanjeng Pangeran Haryo Purbodiningrat, SE, MBA., menyampaikan, “Kami berharap dari kegiatan Srawung Jogja Festival ini juga dapat menjadi kesempatan yang baik untuk membangkitkan semangat para penggiat ekonomi kreatif, baik yang ada di Jogjakarta maupun yang ada di kota lain di Indonesia. Diharapkan juga pada para seniman dan pegiat festival di Jogjakarta untuk terus menjaga semangat berkarya, tetap eksis, dan berkolaborasi dengan berbagai pihak yang bisa saling support.”

Srawung Jogja Festival kemudian dilanjutkan penyampaian paparan-paparan, yang masing-masing disampaikan oleh Hari Budiarti -Koordinator Hubungan Antarlembaga ASEAN Kemenparekraf/Baparekraf dan Riaz Saehu - Direktur Kerja Sama Sosial Budaya ASEAN Kementerian Luar Negeri, mengenai Festivals ASEAN Focus dan Persiapan menuju WCCE 2021, serta Singgih Raharjo - Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang memaparkan tentang Permasalahan festival selama pendemi dan strategi adaptasi festival di Yogyakarta.

Sebelum berakhir, Dinda Intan Pramestri Putri yang menjadi Direktur Pelaksana Jogja Festivals menyampaikan evaluasi pelaksanaan Jogja Festivals Forum Expo (JFFE) 2019 serta masukan-masukan untuk pelaksanaan di tahun 2020 ini. Dilanjutkan sebagai Setyo Harwanto Ketua Jogja Festivals Forum & Expo yang menyampaikan persiapan JFFE 2020 yang rencananya akan diselenggarakan pada 17 - 20 November 2020 di Yogyakarta.

Setelah sesi diskusi Srawung Jogja Festival ini berakhir dan ditutup sekitar jam 16:30 WIB, para peserta bersama-sama mendapat kesempatan mengunjungi ARTJOG 2020 di Jogja Nasional Museum ini.

Versi lengkap artikel ini bisa diunduh pada tautan ini